Pemateri Pelatihan

Pelatihan Manajemen Surveilans yang dilaksanakan oleh Pengurus Daerah IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)/Public Health Association of Indonesia Prov. Sulawesi Tenggara Republik Indonesia (11 Mei 2013)

Peresmian Gedung Baru FKM UHO

Bersama Rektor Universitas Halu Oleo Kendari “Prof. DR. Ir. H. Usman Rianse, MS”, dalam peresmian gedung baru Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo.

IAKMI : Bakti Sosial Korban Banjir

Tim bantuan sosial Pengurus Daerah IAKMI Prov. Sulawesi Tenggara, memberikan bantuan kepada korban banjir di Kecamatan Kapoaila Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara Republik Indonesia

Bersama Istri Tercinta

Dalam suasana lebaran idul adha 2013 bersama Istri “Devi Savitri Effendy”

My Lovely Son and His Sister

Belajar menyukai gitar di usia dini berdua bersaudara “Barakh Alfath Tosepu" dan "Sansiviera Kesha Qalbi Tosepu”

Minggu, Maret 20, 2016

Virus Zika di persimpangan MEA dan SDGs

Dunia kesehatan mengalami banyak tantangan dan perubahan, masih belum lepas di telingga kita, bahwa pada pertengahan tahun 2015 di Negara Arab di temukan virus yang bernama Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV). Penyakit ini menjadi perhatian sangat serius bagi pemerhati kesehatan, Negara Korea Selatan sebagai salah satu Negara yang terkena imbas dari MERS-CoV tersebut pro aktif untuk menuntaskan penyakit ini. Belumlah berakhir, kini kembali lahir virus baru yang bernama virus zika. Virus zika ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi dari genus Aedes, terutama Aedes aegypti di daerah tropis. Nyamuk ini sama dengan nyamuk yang mentransmisikan demam berdarah dengue (DBD), chikungunya dan demam kuning. Para ahli menganggap bahwa penyakit ini bisa menyebar melalui factor geografis dan perpindahan penduduk.

Sebagaimana diketahui bahwa perpindahan penduduk dari satu Negara ke Negara lain merupakan salah satu dampak dari berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Hal ini perlu menjadi perhatian, terlebih kawasan ASEAN adalah salah daerah tropis yang merupakan tempat yang baik perkembangan nyamuk Aedes aegypti. Disisi lain, awal tahun 2016 dimulai program international Sustainable Development Goals (SDGs). Program ini memiliki lima pondasi dasar yakni manusia, planet, kesejahteraan, perdamaian, dan kemitraan. Serta dibangun dengan 17 tujuan. Pada tujuan ketiga, menyebutkan bahwa menjamin kehidupan yang sehat dan mendorong kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Ini memberikan perhatian bagi pemerintah akan pentingnya melindungi masyarakat untuk mendapatkan kehidupan yang sehat. Program MEA dan SDGs jalan secara bersamaan dalam mewujudkan masyarakat sehat. Akan tetapi diawal perjalanan tersebut kembali hadir Virus Zika, yang membayangi pelaksanaan program tersebut.


World Health Organization (WHO) atau badan kesehatan dunia, melaporkan bahwa di beberapa Negara virus zika telah ditemukan kasusnya. Bahkan ini menjadi perhatian yang sangat serius untuk segera dikendalikan. Pada tanggal 18 Januari 2016, di  Perancis daerah Saint Martin ditemukan 1 kasus infeksi virus zika. Pada tanggal 25 Januari 2016, di pulau Virgin Amerika Serikat, dikonfirmasi adanya infeksi virus zika. Selanjutnya di Republik Dominika dilaporkan bahwa dari 10 kasus terinfeksi virus zika. Dari 10 kasus, 8 adalah diperoleh secara lokal dan 2 di impor dari El Salvador. Negara lainnya seperti Haiti, Karibia, dan Germany kasus infeksi virus zika telah menjadi perhatian yang sangat serius.
Mengenal penyakit ini akan memudahkan dalam upaya pencegahan dan pengobatan yang tepat. Gejala, Masa inkubasi (waktu dari paparan gejala) penyakit virus Zika tidak jelas, tetapi mungkin beberapa hari. Gejalanya mirip dengan infeksi arboviral lainnya seperti demam berdarah, konjungtivitis, nyeri sendi, malaise, dan sakit kepala. Gejala-gejala ini biasanya ringan dan berlangsung selama 2-7 hari. Diagnosis, Virus zika di diagnosis melalui PCR (polymerase chain reaction) dan isolasi virus dari sampel darah. Diagnosis oleh serologi dapat menjadi sulit karena virus bisa menyeberang-bereaksi dengan flaviviruses lainnya seperti demam berdarah, dan demam kuning. Pengobatan, Penyakit virus zika biasanya relatif ringan dan tidak memerlukan pengobatan khusus. Orang sakit dengan virus zika harus mendapatkan banyak istirahat, minum yang cukup, mengobati rasa sakit dan demam dengan obat-obatan umum. Jika gejala memburuk, mereka harus mencari perawatan medis. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin vaksin penyakit tersebut.
Pencegahan, Partisipasi masyarakat merupakan langkah yang sederhana, mudah dilakukan, dan memiliki nilai ekonomi yang rendah. Semua elemen harus bahu membahu untuk mencegah virus ini menyebar di masyarakat. Pemerintah juga memiliki peranan yang begitu besar, peran ini dapat diimplementasikan dengan mengintensifkan kegiatan surveilans, menerapkan langkah-langkah pengendalian vektor, serta mendidik masyarakat tentang risiko yang terkait dengan virus zika dan mendorong mereka untuk mengambil setiap tindakan pencegahan terhadap gigitan nyamuk. Focus upaya pencegahan dan pengendalian berupa mengurangi sarang nyamuk melalui pengurangan sumber dan mengurangi kontak antara nyamuk dan manusia. Hal ini dapat dicapai dengan mengurangi jumlah tempat terbuka yang berisi air alami dan buatan yang mendukung jentik nyamuk untuk berkembang biak, mengurangi populasi nyamuk dewasa sekitar masyarakat. Menggunakan penghambat nyamuk dewasa seperti kasa nyamuk. Karena nyamuk Aedes memiliki waktu atau jam tertentu dalam menggigit, maka dianjurkan bahwa mereka yang tidur pada siang hari, bayi, anak-anak, orang sakit atau tua, harus beristirahat dengan menggunakan kelambu.
Pada kelompok resiko lainnya, seperti wisatawan. Mereka diharuskan untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan tindakan pencegahan dasar untuk melindungi diri dari gigitan nyamuk. Langkah ini dinilai sangat efektif dan membantu pemerintah dalam melaksanakan pengendalian penyakit. Di Thailand, upaya ini telah dilakukan dengan dibentuknya unit penyakit  wisatawan, unit ini berada dibawah kendali Rumah Sakit Penyakit Tropis, Faculty of Tropical Medicine, Mahidol University. Para wisatawan yang berkunjung di negara ini harus melewati laser sensor fever yang dipasang di bagian kedatangan bandara international Thailand. Wisatawan yang teridentifikasi memiliki gejala penyakit tertentu akan langsung diarahkan untuk ke rumah sakit tersebut. Kerjasama antar pihak telah berjalan dengan baik, sehingga upaya menekan penyebaran masuknya penyakit antar satu negara dengan negara lain bisa dikendalikan.
Di era MEA dan SDGs ini membutuhkan kerja sama antar berbagai komponen bangsa, tugas ini bukan dibebankan kepada pemerintah saja, tetapi lebih dari itu masyarakat harus pro aktif dalam mengenal, memahami dan melakukan upaya perbaikan lingkungan, khsusnya tempat perindukan nyamuk Aedes aegypty. Pencegahan jauh lebih penting dan mudah dilakukan, sehingga jika hal ini bisa dilakukan maka penyebaran virus zika akan mudah dikendalikan.

Bahasa Indonesia Bahasa ASEAN, Mungkinkah?

Negara yang berada dalam kawasan asia tenggara telah berkomitmen untuk memajukan kawasan ini, komitmen tersebut diwujudkan dalam bentuk organisasi ASEAN yang berdiri pada 8 Agustus 1967 di Bangkok. Beberapa negara pendiri ASEAN yakni: Filipina, Indonesia, Malaysia, Singapore, Thailand, diikuti beberapa Negara yakni  Brunei Darussalam bergabung pada 7 Januari 1984, Vietnam bergabung pada 28 Juli 1995, Laos bergabung pada 23 Juli 1997, Myanmar bergabung pada 23 Juli 1997, dan Kamboja bergabung pada 16 Desember 1998 dan Timor Leste. Untuk memperluas keanggotaan maka beberapa Negara yang berada dalam kawasan ASEAN memiliki keinginan yang sama untuk masuk dalam keanggotaan tersebut, yakni: Bangladesh, Palau, Papua Nugini, Republik China (Taiwan).

Dalam perjalanannya ASEAN telah menjalani berbagai program, yang terbaru yakni disepakatinya program Masyarakat Ekonomi ASEAN/MEA. Ini mulai sejak berlangsung 31 Desember 2015. MEA memiliki tiga pilar yang terkait satu dengan lainnya: yaitu Masyarakat Politik Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan Masyarakat Sosial Budaya ASEAN. Ketiga pilar tersebut mengarah pada perpindahan penduduk antar satu Negara ke Negara lain. Permasalahan perpindahan penduduk yakni factor bahasa. Inilah salah satu tantangan bagi pimpinan Negara ASEAN untuk menyepakati salah satu bahasa yang bisa digunakan sebagai bahasa ASEAN. Menyatukan pemikiran, ide penduduk Negara ASEAN terhadap bahasa ASEAN akan mengalami jalan yang panjang, tetapi ini sesuatu hal yang harus dilakukan menginggat motto ASEAN yakni “One Vision, One Identity, One Community”.

Diantara Negara-Negara anggota ASEAN, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar, potensi tersebut berupa jumlah penduduk yang banyak, luas wilayah yang sangat besar, karakteristik budaya yang beragam, serta sumber daya alam yang berlimpah, bahasa indonesia telah banyak dipelajari berbagai Negara seperti Thailand, diluar kawasan ASEAN beberapa Negara telah mempelajarinya diantaranya Australia, Jepang, Belanda. Ini menjadi kekuatan indonesia untuk berada pada gerbong terdepan sebagai pemimpin kawasan ASEAN. Dengan potensi itu pula maka bahasa indonesia layak untuk diperjuangkan sebagai bahasa pengantar dikawasan ASEAN. Namun demikian, terdapat beberapa peta kekuatan yang harus dijadikan acuan dalam meloby negara lainnya. Secara umum tradisi di secretariat ASEAN bahwa dalam pengambilan keputusan merujuk pada satu Negara satu suara, sehingga walaupun indonesia memiliki jumlah penduduk yang banyak hanya memiliki satu suara dalam pengambilan keputusan. Hal ini harus benar-benar menjadi perhatian yang serius dalam menentukan langkah. Jika melihat “karakteristik budaya” Negara ASEAN, maka dapat dibagai dalam tiga kelompok besar yakni: kelompok pertama Filipina dan Singapore, kedua Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan ketiga Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Kamboja.
Sisi lainnya, terdapat beberapa Negara yang menggunakan bahasa melayu diantaranya: Bagian barat Indonesia, Malaysia, Thailand selatan, Singapore, Brunei Darussalam, Filipina. Negara Negara tersebut meskipun memiliki bahasa nasionalnya tetapi penggunaan bahasa melayu masih sering digunakan penduduknya. Fakta ini menunjukkan betapa bahasa melayu menasional di beberapa Negara kawasan ASEAN. Hal inilah menjadikan Malaysia sebagai penggerak utama bahasa melayu, selain digunakan sebagai bahasa nasional, Malaysia juga memiliki pengaruh pada beberapa Negara kawasan ASEAN, seperti ketergantungan Singapore terhadap pasokan air bersih dari Malaysia.
Peluang lainnya yakni bahasa inggris, ini mudah diterima oleh semua Negara, terlebih bahasa ini telah menjadi salah satu bahasa pengantar Persatuan Bangsa Bangsa (PBB). Sehingga Negara kawasan ASEAN tentunya akan mudah memahami kondisi yang berada diwilayahnya. Ini pula yang akan membawa keuntungan yang besar bagi Singapore dan Filiphina sebagai pengguna bahasa inggris terbesar.
Fenomena tersebut memperlihatkan terdapat tiga bahasa yang memiliki peluang sebagai bahasa pengantar kawasan ASEAN, yakni: Bahasa Indonesia, Bahasa Melayu, dan Bahasa Inggris. Tarik menarik kepentingan terhadap fenomena ini akan sangat kencang, misalnya jika Bahasa Melayu disuarakan tentunya Indonesia akan menerima hal tersebut, terlebih ini berada pada gerbong Malaysia. Demikian pula sebaliknya jika bahasa indonesia yang akan digunakan sebagai bahasa ASEAN, maka Malaysia tentu sulit untuk menerimanya. Disinilah akan Nampak kekuatan dan pengaruh suatu Negara terhadap Negara lainnya.
Tentunya perjuangan Indonesia dalam mengusulkan bahasa indoesnia sebagai bahasa ASEAN harus berjalan secara serentak antara eksekutif dan legislative. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI H. Irman Gusman S.E., MBA mengatakan bahwa jumlah penutur bahasa Melayu berjumlah 400 juta orang atau 60% dari sekitar 650 juta total penduduk kawasan Asia Tenggara, maka peluang menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ASEAN sangat besar. Jumlah penutur ini hampir sama banyaknya dengan jumlah penutur bahasa Arab dan bahasa Rusia. Namun, lebih banyak dibandingkan jumlah penutur bahasa Prancis dan bahasa Jerman yang sudah menjadi bahasa internasional. Berbeda dengan pendapat Hamam Supriyadi, Ph.D dosen Bahasa Indonesia, University of Thammasat Thailand yang mengatakan bahwa Bahasa Indonesia tidak mesti menjadi bahasa ASEAN, tetapi bahasa Indonesia akan menjadi bahasa yang paling banyak digunakan penduduk ASEAN.
Akhirnya, semua akan kembali pada pengguna bahasa itu sendiri, masyarakat ASEAN yang akan menentukan segalanya, jika dia butuh maka dia akan menggunakannya. Bahasa Inggris, Bahasa Melayu, dan Bahasa Indonesia memiliki peluang yang sama untuk digunakan sebagai bahasa resmi Negara ASEAN.