Pemateri Pelatihan

Pelatihan Manajemen Surveilans yang dilaksanakan oleh Pengurus Daerah IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia)/Public Health Association of Indonesia Prov. Sulawesi Tenggara Republik Indonesia (11 Mei 2013)

Peresmian Gedung Baru FKM UHO

Bersama Rektor Universitas Halu Oleo Kendari “Prof. DR. Ir. H. Usman Rianse, MS”, dalam peresmian gedung baru Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo.

IAKMI : Bakti Sosial Korban Banjir

Tim bantuan sosial Pengurus Daerah IAKMI Prov. Sulawesi Tenggara, memberikan bantuan kepada korban banjir di Kecamatan Kapoaila Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara Republik Indonesia

Bersama Istri Tercinta

Dalam suasana lebaran idul adha 2013 bersama Istri “Devi Savitri Effendy”

My Lovely Son and His Sister

Belajar menyukai gitar di usia dini berdua bersaudara “Barakh Alfath Tosepu" dan "Sansiviera Kesha Qalbi Tosepu”

Senin, Februari 22, 2010

INDONEIA SEHAT 2010, MUNGKINKAH? (Ramadhan Tosepu)

Indonesia Sehat 2010

Mendengar kata Indonesia Sehat 2010 banyak masyarakat akan berfikir pada tahun 2010 masyarakat Indonesia tidak akan ada lagi yang sakit. Sesunguhnya konsep pembangunan kesehatan yang dimaksudkan tidaklah demikian. Rasa-rasanya bangsa ini semakin lama semakin tak kunjung jelas arah pembagunan kesehatannya, setidaknya hal itu dapat dilihat dengan maraknya penyakit berbasis lingkungan yang melanda masyarakat. Penulis berfikir semakin banyak tenaga kesehatan akan semakin menyejahterakan masyarakat dalam hal kesehatan, namun ketika kita melihat dewasa ini setidaknya gambaran itu jauh dari kenyataan. Pertanyaanya kemudian, kenapa ini terjadi ?

Dimasa pemerintahan Presiden B.J.Habibie tahun 1999 yang kala itu kementrian kesehatan dipimpin oleh Prof. Farid Anfaza Moeloek pernah mencanangkan program yang sangat luar biasa dan istimewa untuk arah dan kebijakan pembangunan kesehatan yakni “ Indonesia sehat 2010”. Kebijakan pembangunan ini akan bisa terjawab ketika tahun 2010 kelak. Saat ini kita telah memasuki tahun 2010, pertanyaan berikutnya, apakah Indonesia sehat 2010 telah tercapai? Jawabannya ada pada kita semua. bagaimana dengan keadaan diri kita saat ini? Tentunya program Indonesia sehat 2010 ini hanya akan terselenggara dengan baik, apabila semua elemen bangsa ini turut mengambil peran sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Dalam pembangunan kesehatan, sehat bukan hanya tangung jawab tenaga kesehatan, namun yang paling penting adalah bagaimana elemen masyarakat sadar akan arti hidup sehat, yang sesuai dengan norna-norma budaya bangsa Indonesia.

Dalam Indonesia Sehat 2010, lingkungan yang diharapkan adalah yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat yaitu lingkungan yang bebas dari polusi, tersedianya air bersih, sanitasi lingkungan yang memadai, pemukiman yang sehat, perencanaan kawasan yang berwawasan kesehatan serta terwujudnya kehidupan masyarakat yang saling tolong menolong. Perilaku masyarakat Indonesia Sehat 2010 yang diharapkan adalah yang bersifat proaktif untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat.

Peran Sarjana Kesehatan Masyarakat

Reformasi dibidang kesehatan telah dimulai sejak tahun 1999, dalam reformasi pembangunan kesehatan ini memiliki lima fenomena yang berpengauh terhadap pembangunan kesehatan.Pertama, perubahan pada dinamika kependudukan.Kedua, Temuan-temuan ilmu dan teknologi kesehatan.Ketiga, Tantangan global sebagai akibat dari kebijakan perdagangan bebas, revolusi informasi, telekomunikasi dan transportasi. Keempat, Perubahan lingkungan.Kelima, Demokratisasi.

Perubahan pemahaman konsep akan sehat dan sakit serta semakin maju IPTEK dengan informasi tentang determinan penyebab penyakit telah menggugurkan paradigma pembangunan kesehatan yang lama yang mengutamakan pelayanan kesehatan yang bersifat kuratif dan rehabilitatif. Paradigma pembangunan kesehatan yang baru yaitu Paradigma Sehat merupakan upaya untuk lebih meningkatkan kesehatan masyarakat yang bersifat proaktif. Paradigma sehat sebagai model pembangunan kesehatan yang dalam jangka panjang diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk mandiri dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.

Tenaga kesehatan masyarakat (Kesmas) merupakan bagian dari sumber daya manusia yang sangat penting perannya dalam pembangunan kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Pembangunan kesehatan dengan paradigma sehat merupakan upaya meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan melalui kesadaran yang lebih tinggi pada pentingnya pelayanan kesehatan yang bersifat promotif dan preventif.

Pelayanan promotif, untuk meningkatkan kemandirian dan peran serta masyarakat dalam pembangunan kesehatan diperlukan program penyuluhan dan pendidikan masyarakat yang berjenjang dan berkesinambungan sehingga dicapai tingkatan kemandirian masyarkat dalam pembangunan kesehatan. Dalam program promotif membutuhkan tenaga-tenaga kesmas yang handal terutama yang mempunyai spesialisasi dalam penyuluhan dan pendidikan.
Pelayanan preventif, untuk menjamin terselenggaranya pelayanan ini diperlukan parar tenaga kesmas yang memahami epidemiologi penyakit, cara-cara dan metode pencegahan serta pengendalian penyakit. Program preventif ini merupakan salah satu lahan bagi tenaga kesmas dalam pembangunan kesehatan. Keterlibatan kesmas dibidang preventif di bidang pengendalian memerlukan penguasaan teknik-teknik lingkungan dan pemberantasan penyakit. Tenaga kesmas juga dapat berperan dibidang kuratif dan rehabilitatif kalau yang bersangkutan mau dan mampu belajar dan meningkatkan kemampuannya dibidang tersebut.

Berfikir secara system (system thinking)

Menyelesaikan masalah kesehatan bukan lagi bertumpu pada budaya masa lampau yang mementingkan kesenangan pimpinan, saat ini tenaga kesehatan masyarakat haruslah lebih proaktif dalam melihat permasalahan kesehatan masyarakat. Penyelesaiaan masalah secara proaktif membutuhkan cara berfikir system artinya harus terstruktur dan terarah pada satu tujuan yakni untuk kesejahteraan masyarakat. Beberapa hal yang dapat dilakukan, antara lain, adalah: proaktif mengembangkan dan menghasilkan ide-ide dan berpikir secara sistem (system thinking),proaktif mencari sumber dana pembangunan kesehatan, proaktif mengundang investor bidang kesehatan, dan proaktif melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga donor nasional dan internasional.

Reformasi Promosi Kesehatan

Tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan media (cetak dan elektonik) merupakan salah faktor penentu keberhasilan suatu program promosi kesehatan. Ketika pemerintah melakukan program kesehatan dengan melibatkan media gaungnya akan terasa lebih besar dibandingkan dengan tanpa media. Membaca teori manapun, para ahli kecenderungannya akan berkata demikian. Namun diera demokrasi saat ini publikasi sangatlah penting untuk sebahagian orang, dua hal akan muncul, pertama ide/gagasan promosi kesehatan akan nampak jelas dan memberikan pengaruh terhadap masyarakat, kedua foto sang pemberi ide/gagasan akan terlihat indah. Telah banyak pesan promosi kesehatan yang telah dibuat, namun kenyatannya dapat kita lihat apakah berbanding lurus dengan pesan yang disampaikan terhadap perubahan perilaku seseorang?

Penutup

Tahun 2010 ini diharapkan penduduk Indonesia tidak lagi menemukan hambatan yang berarti dalam menjangkau pelayanan kesehatan baik itu dalam hal ekonomi atau biaya maupun yang bersifat non-ekonomi seperti jarak pelayanan kesehatan yang semakin dekat sehingga memudahkan masyarakat yang membutuhkannya. Perilaku sehat dan lingkungan yang sehat serta ditunjang dengan fasilitas kesehatan yang memadai dan kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan, akan membuat derajat kesehatan masyarakat meningkat. Dewasa ini kondisi bangsa Indonesia masih sangat membutuhkan perhatian yang sangat serius dalam menangani masalah kesehatan masyarakat. Ini merupakan tantangan sekaligus peluang bagi tenaga kesehatan masyarakat untuk menunjukkan eksistensinya dalam pembangunan kesehatan. Secara sadar sarjana kesehatan masyarakat harus proaktif dan berfikir system dalam menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat. Teori-teori dalam menyelesaikan masalah kesehatan masyarakat telah banyak dipelajari, baik itu yang berasal dari luar maupun dari dalam negeri, namun yang dibutuhkan saat ini adalah penerapan teori tersebut yang tentunya tetap mengacu pada budaya bangsa ini. Sehingga pencapaian program Indonesia sehat 2010 dapat terwujud di bumi Indonesia umumnya dan di Bumi Anoa khususnya.

Rabu, Juli 29, 2009

PENYUSUNAN BUKU SURVEI DEMOGRAFI DAN KESEHATAN INDONESIA (SDKI) 2007 (Ramadhan Tosepu)

Dalam tulisan sebelumnya (baca:gender dalam kesehatan reproduksi di Indonesia,ditulis tanggal,5 Juli 2009) penulis pernah menyampaikan akan pelaksanaan ICPD di Cairo, Mesir. Berkenaan hal tersebut banyak hal yang telah dilakukan pemerintah Republik Indonesia untuk mengurangi masalah kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah pemenuhan basic data kesehatan yang didalammnya memuat data-data terbaru tentang kondisi status kesehatan masyarakat saat ini. Kegiatan ini sangat penting oleh karena data yang telah ada dapat digunakan oleh pemerintah pusat/daerah dalam perencanaan pembangunan kesehatan.
Implementasi dari pemenuhan data kesehatan tersebut telah dilakukan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 yang bertujuan : 1) Mengumpulkan data mengenai tingkat fertilitas, mortalitas dan prevalensi KB.2) Mengumpulkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, seperti perawatan ibu hamil,imunisasi, pemberian ASI, pengetahuan tentang AIDS/PMS lainnya, dan kematian ibu.3) Memenuhi kebutuhan data dasar yang memiliki keterbandingan internasional untuk penyusunan kebijakan dan program di bidang kependudukan dan kesehatan.4) Mengumpulkan data mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku pria berstatus kawin berkaitan dengan kesehatan reproduksi, penyakit AIDS dan PMS lainnya.5) Mengumpulkan data untuk memantau peran serta pria dalam program KB.6) Mengumpulkan data mengenai pengetahuan, sikap dan prilaku remaja yang belum kawin berkaitan dengan kesehatan reproduksi, penyakit AIDS dan PMS seksual lainnya.7) Mengumpulkan informasi mengenai kesehatan lingkungan tempat tinggal, antara lain mengenai kondisi rumah, fasilitas air bersih, fasilitas dapur, keberadaan ternak/unggas di sekitar rumah, dan upaya pencegahan malaria. Survei tersebut dilakukan serentak diseluruh indonesia dengan pelaksana kegiatan BPS bekerja sama dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Departemen Kesehatan (DEPKES). Secara teknis, BPS juga dibantu oleh United States Agency for International Development (USAID) melalui proyek Demographic and Health Surveys yang dilaksanakan oleh ORC Macro International, Amerika Serikat.
Survei yang telah dilakukan merupakan dokumen publik yang layak untuk diketahui oleh masyarkat, sehingga untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses data-data tersebut oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penyusunan Buku Survei Demografi Kesehatan Nasional (SDKI) 2007 yang melibatkan perwakilan dari seluruh indonesia. Harapannya adalah masing-masing provinsi akan menerbitkan buku tersebut yang bisa dijadikan bahan rujukan bagi perkembangan kesehatan masayarkat di daerahnya masing-masing. (Bogor,24 Juli 2009)

Senin, Juli 06, 2009

PENGARUH PEMBERIAN MP-ASI BISKUIT IKAN TERI TERHADAP PERTUMBUHAN BADUTA GIZI KURANG DI KECAMATAN TANETE RILAU, KAB. BARRU 2008 (ACHMAD AFFANDY)

Ahmad Affandy
Staf Dinas Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat
Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh pemberian MP-ASI biskuit ikan teri terhadap pertumbuhan baduta gizi kurang. Jenis dan rancangan yang digunakan quasy eksperiment non randomized pre-post control group design. Kelompok intervensi menerima MP-ASI biskuit ikan teri dan kelompok kontrol menerima MP-ASI biskuit non ikan teri selama 90 hari berturut-turut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata pertambahan berat badan kelompok intervensi, baik pada anak laki-laki ( 1,40±0,53 kg) maupun anak perempuan (1,26±0,32 kg) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol anak laki-laki (1,20±0,52 kg) dan anak perempuan (1,48±0,43 kg). Rerata pertambahan panjang badan pada kelompok intervensi, baik pada anak laki-laki (1,94±0,94 cm) maupun anak perempuan (1,68±2.00 cm) lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol anak laki-laki (1,30±0,70 cm) atau pun anak perempuan (0,68±0,89 cm). Hasil uji statistic menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan peningkatan berat badan kedua kelompok perlakukan p-value > 0,05. Untuk pertumbuhan panjang badan terdapat perbedaan yang nyata pada kedua kelompok perlakukan dengan p-value < 0,05.
Kata kunci : MP-ASI bskuit ikan teri, pertumbuhan

Minggu, Juli 05, 2009

GENDER DALAM KESEHATAN REPRODUKSI DI INDONESIA (Ramadhan Tosepu)



I. Refleksi perjanjian international
Dalam pertemuan International Conference on Population and Development (ICPD) tahun 1994 di Cairo,Mesir memuat kesepakatan : meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan penduduk, pembangunan sumberdaya manusia, dan memfokuskan kepada pentingnya keterkaitan kebijakan kependudukan dan pembangunan. Selanjutnya tahun 1995 dilakukan konferensi wanita sedua di Beijing dan menghasilkan 12 titik kritis yang dihadapi perempuan, salah satunya adalah kesehatan dan hak reproduksi serta perlindungan dan pengayoman secara hukum. Untuk mempertegas kedua perjanjian tersebut maka tahun 2000 dilakukan perjanjian international Millenium Development Goals (MDGs), dalam MDGs tersebut memuat delapan sasaran, yakni : penanggulangan kemiskinan dan kelaparan, pemenuhan standar pendidikan dasar, meningkatkan keadilan dan kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi angka kematian bayi, meningkatkan kesehatan ibu, memerangi HIV dan AIDS,malaria, dan penyakit menular lainnya, pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan.
II. Masalah kesehatan reproduksi yang mengitari masyarakat
Pemahaman gender dalam Kesehatan Reproduksi merupakan masalah yang sangat penting untuk diketahui dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan reproduksi. Masalah gender dalam Kesehatan Reproduksi juga merupakan masalah kesehatan reproduksi yang berkembang di seluruh daerah di indonesia, masalah tersebut diantaranya: munculnya pergaulan bebas, hal ini muncul akibat remaja tidak mengetahui dampak dari pergaulan bebas. Remaja mengetahui dampak dari pergaulannya yang kebablasan ketika mereka telah mengalami kehamilan (hamil diluar nikah), akibat lanjutannya akan muncul dibenak mereka aborsi karena mereka merasa malu perbuatannya diketahui oleh orang lain. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) juga merupakan salah satu masalah kespro yang muncul didaerah, ini muncul akibat peran dan fungsi masing-masing anggota keluarga yang belum dipahami, terutama yang sering muncul adalah kekerasan suami terhadap istri yang menganggap bahwa istri tidak lebih dari pemuas hawa nafsu laki-laki sehingga perlakuan suami terdapap istri terkadang membawa dampak negatif bagi istri. Disamping itu masalah ASI Ekslusif masih merupakan masalah yang kerap kali menghantui program kesehatan ibu dan anak, disisi lain kesehatan ibu dan anak terus digalakkan dalam rangka untuk menekan angka kematian bayi dan anak, namun disisi lain tenaga kesehatan masih banyak yang belum memahami akan manfaat dan guna dari ASI Ekslusif. Rumah Sakit sebagai institusi pelayanan kesehatan masih merupakan penyumbang terbesar dari kegagalan penerapan ASI Ekslusif, kondisi ini dapat dilihat ketika ibu melahirkan di Rumah Sakit petugas kesehatan tidak memperhatikan bayi yang baru lahir, mereka cenderung langsung memberikan susu formula kepada bayi yang baru lahir, yang tentunya keberadaan ini tidak sepengetahun ibu sang bayi. Keadaan ini disinyalir adanya kerjasama antara penyedia susu formula (sponsor) dalam rangka untuk mempromosikan susu formula tersebut kepada konsumen. Masalah lainnya adalah kasus pendarahan pada ibu hamil, pendarahan ini akan memberikan berbagai dampak yang bisa muncul diantaranya : anemia, keguguran, dan kematian ibu/janin.
Keempat masalah tersebut merupakan gambaran nyata akan bias gender yang terjadi di Indonesia keberadaan ini masih jauh dari harapan akan adanya kesetaraan antara laki-laki dan perempuan. Kesetaraan gender bukan berarti akan mengenyampingkan budaya-budaya yang menjadi nilai historis bangsa indonesia, namun kesetaraan gender adalah berupaya menempatkan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan. Kesepahaman antara laki-laki dan perempuan dalam mengarungi bahtera rumah tangga adalah modal dasar yang harus dimiliki pasangan suami istri (pasutri).
Tentunya, munculnya bias gender bukan saja tanggung jawab masyarakat namun pemerintah harus turut berperan untuk memberikan berbagai sosialisasi tentang kesehatan reproduksi bagi masyarakat. Khususnya Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) merupakan pilar utama penggerak gender dalam kesehatan reproduksi. Upaya yang dapat dilakukan berupa : sosialiasi kesehatan reproduksi remaja (KRR) ini ditujukan bagi kaum remaja yang sangat rentan terhadap dampak negatif akibat perbuatannya baik yang diketahui maupun yang tidak diketahuinya.Sosialisasi Asi Ekslusif secara menyeluruh kelapisan masyarakat, penyuluhan perawatan pasca persalinan oleh karena pasca persalinan merupakan hal yang rentan munculnya berbagai penyakit infeksi bagi ibu yang baru melahirkan, upaya terakhir yang bisa dilakukan adalah mensosialisasikan gender ke ibu hamil, sering kali ibu hamil oleh sebagian suami menganggap urusan hamil adalah tanggung jawab istri sehingga tanpa disadari ibu hamil di berikan pekerjaan yang tidak seharusnya dilakukan saat meraka hamil misalnya membantu suami mencari nafkah, melakukan aktifitas rumahan skala besar (mengambil air,mencuci).
Sebagai wujud pengimplentasian dari pelaksanaan kesehatan reproduksi, tanggal 18 juni 2009 telah di tanda tangani memorandum of undestending (MOU) antara Universitas Haluoleo (Unhalu) dengan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) tentang kesehatan reproduksi, yang selanjutnya untuk menindaklanjuti MOU tersebut di bentuk Pusat Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-RR) Winslow pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Program Studi Kesehatan Masyarakat. Tujuannya adalah sebagai pusat konseling remaja terhadap masalah-masalah kesehatan reproduksi. Selanjutnya pada tanggal 21-27 Juni 2009 di Gogor BKKBN Pusat telah menyelenggarakan pelatihan TOT gender dalam kesehatan reproduksi, kegiatan yang dihadiri oleh seluruh elemen (tokoh masyarakat/pemuda/agama,BKKBN Provinsi) dari seluruh BKKBN Provinsi di Indonesia. Pertemuan yang di hadiri oleh Pile Patiung, SE (Ka.Balatbang BKKBN Prov.Sultra) dan Dharmasari, S.PSi, diharapkan akan memberikan kontsribusi yang besar bagi masyarakat sultra dalam memahami dan menyikapi gender dalam kespro, dan selanjutnya kedua kegiatan tersebut dilakukan dalam upaya menyiapkan konselor bagi remaja dan tenaga pelatih bagi elemen masyarakat di daerah. Sinergitas antara pemerintah khususnya BKKBN dengan elemen masyarakat akan sangat menetukan keberhasilan program gender dalam kesehatan reproduksi.
III. Pengenalan Masalah dengan Beberan Insav Gender dalam Komunitas
Istilah beberan insav gender merupakan istilah yang masih asing dibenak kita, namun akan kita coba pahami dengan menggunakan beberapa pendekatan yang relevan tanpa mengeyampingkan arti harafiahnya. Beberan insav gender adalah sebuah permainan/game yang menggabungkan seni bermain dengan teknologi pembelajaran yang mirip dengan permainan ular tangga, cara dan sistem permainan ini sama dengan permainan ular tangga, yang membedakan adalah dalam beberan insav gender terdapat beberapa pemain yang memiliki tugas dan fungsi yang berbeda. Pertama terdapat Tokoh masyarakat, kepala desa/lurah, Petugas kesehatan,dan Penyuluh KB. tokoh tersebut memiliki tugas sebagai tempat untuk mengklarifikasi jawaban yang disampaikan oleh peserta permainan ini. Kedua terdapat fasilitator yang bertugas sebagai pengarah dalam permainan ini. Ketiga terdapat peserta permainan beberan insav gender, peserta dituntut untuk bisa menjelaskan setiap petanyaan yang diperoleh dari lemparan dadu. Dalam permainan ini pula terdapat gambar yang diambil terpisah dari lembar permainan, maksud dari gambar tersebut adalah untuk merefleksikan kesehatan reproduksi yang selanjutnya dibahas secara bersama-sama anggota kelompok tersebut.
Beberan insav gender dibuat menyesuaikan materi gender dalam kesehatan reproduksi remaja dengan maksud agar materi yang disampaikan mudah sampai kepada penerima pesan. Permainan ini memiliki makna : kerjasama tim maksudnya adalah dalam organisasi kerjasama yang baik antar sesama anggota merupakan hal utama keberhasilan dalam mencapai tujuan organisasi. Menghargai maksudnya adalah dalam tim haruslah saling menghargai antara satu anggota dengan anggota lain, menghargai pendapat orang lain yang menggungkapkan pendapatnya. Ikhlas maksudnya adalah dalam menyampaikan pendapat belum tentu yang disampaikan itu benar/betul sehingga jika ada masukan/saran dari anggota yang lain maka haruslah ikhlas menerima saran tersebut, oleh karena sesempurna manusia pasti memiliki kekurangan.
IV. Penutup
Gender dalam kesehatan reproduksi akan diterima dengan baik oleh seluruh lapisan masyarakat bila elemen masyarakat ini turut berperan aktif, yang tentunya disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing staekholder,elemen masyarakat. Permainan beberan insav gender hanyalah salah satu metode yang bisa digunakan dalam rangka untuk mendekatkan informasi kesehatan reproduksi pada kelompok masyarakat, implementasi dari pelaksanaan kegiatan tersebut akan sangat menetukan pencapaian Indonesia Sehat 2010.(Bogor,23 Juni 2009)

Jumat, Mei 01, 2009

Gambaran Kesehatan Masyarakat Desa Tandebura Kecamatan Watubangga Kab.Kolaka

Desa Tandebura merupakan salah satu desa yang berada diwilyah Kecamatan Watubangga Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara, secara umum daerah Watubangga terdiri dari beberapa suku besar yakni : Bali, Jawa, Bugis/makassar, dan Moronene, keanekaragaman suku ini tidak terlepas dari wilayah Watubangga yang ditempati pemukiman transmigrasi.

Status Kesehatan Masyarakat di Kecamatan Watubangga khususnya Desa Tandebura dapat dilihat dari aspek kesehatan lingkungan, aspek ini terbagi atas Air bersih. Air bersih masyarakat Desa Tandebura yang terletak di Satuan Pemukiman III (SP III) masih sangat serba kekurangan, hal ini ditandai dengan kurangnya sumber air bersih yang ada pada wilayah tersebut. Kurangnya sumber air bersih ini disebabkan karena perkonomian masyarakat Desa Tandebura masih berada dibawah kelas menengah kebawah sehingga untuk membuat sumur gali sangat sulit dilakukan, terlebih kedalaman sumur rata-rata 20-30 meter. Dari segi kualitas air bersih di Desa Tandebura terdapat beberapa sumur yang banyak mengandung zat kapur,sehingga sangat tidak layak untuk dikonsumsi.

Disisi lain Kecamatan Watubangga memiliki obyek wisata yang sangat unik untuk dinimkati, yakni adanya wisata pohon kelelawar. Kelelawar ini dapat dilihat pada siang hari yang junmlahnya mencapai ribuan ekor. Keindahan kelelawar ini dapat dilhat dan dinikmati pada pantai Poturua. Untuk pengunjung yang ingin bermalam tersedia tempat Penginapan Asrina milik Andi Azis Baso yang terletak di Desa Tandebura. (Tandebura, 30 April 2009)

Rabu, Februari 25, 2009

Kesehatan Masyarakat Desa Muara Sampara

Desa Muara Sampara merupakan salah satu desa yang berada di wilayah Kecamatan Kapoiala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. Luas Desa Muara Sampara adalah ± 430 Ha/m2 dan merupakan daerah topografi berupa pesisir dengan pesebaran penduduk mengikuti jalur jalan. Desa Muara Sampara memiliki jumlah penduduk sebanyak 462 jiwa





Keadaan Kesehatan Lingkungan

a. Perumahan


Kondisi perumahan Desa Muara Sampara lebih didominasi oleh rumah-rumah panggung. Rumah panggung memang bentuk rumah yang paling cocok dengan kondisi alam di Desa Muara Sampara. Seperti telah dijelaskan sebelumnya desa ini berupa daerah pesisir, sering diguyur air laut ketika pasang naik. Namun, kebanyakan rumah-rumah ini masih menggunakan atap rumbia yang kurang baik dari segi kesehatan.

b. Air bersih

Masyarakat di Desa Muara Sampara menggunakan air sumur sebagai sumber airnya, tetapi ada juga yang menggunakan air sungai/kali ataupun air hujan. Sebagian besar masyarakat di Desa Muara Sampara menggunakan air sumur sebagai sumber air bersih/minumnya yaitu sebanyak 60 kk (88,2%). Air sumur tersebut diperoleh dari desa Lalembue yang diangkut dengan memakai pincara atau katinting. Ada juga yang telah memiliki sumur sendiri yang letaknya tidak begitu jauh dari rumah mereka. Namun, air yang diperoleh tidak memenuhi syarat kesehatan.

c. Jamban Keluarga

Pada umumnya penduduk di Desa Muara Sampara membuang tinjanya di tempat yang tidak memenuhi syarat, seperti di semak-semak, sungai, empang, laut dan lain-lain. Ini disebabkan karena sebagian besar penduduk tidak memiliki jamban keluarga yang memenuhi syarat.

d. Pembuangan Sampah dan SPAL

Di desa Muara Sampara, tidak semua masyarakatnya membuang tinja di jamban. Sebanyak 88,2 % masyarakat membuang tinja di sembarang tempat (bukan jamban). Sebagian tempat pembuangan faces dilakukan di sungai, empang maupun semak-semak belakang rumah mereka. Hal ini tentu saja memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan.

Rata-rata penduduk di Desa Muara Sampara belum mempunyai SPAL yang memenuhi syarat. Sekitar 80,9% penduduk belum mempunyai SPAL khusus. Sedangkan 19,1% penduduk lainnya sudah memiliki SPAL, namun yang memenuhi syarat hanya sebanyak 11 rumah (16,2%), dan yang tidak memenuhi syarat ada sebanyak 57 rumah (83,8%). Hal ini tentu memungkinkan air limbah untuk mengalir dan meresap ke sumber air bersih, seperti sumur, sehingga akan mempengaruhi kualitas air bersih.

Sabtu, Januari 17, 2009

Praktikum Kesehatan Masyarakat: "Kompetensi Dasar Sarjana Kesehatan Masayarakat"

Perkembangan kesehatan masyarakat dewasa ini mengalami perkembangan yang sangat cepat. Berbagai permasalahan dalam masyarakat mengharuskan tenaga kesehatan untuk memiliki kemampuan dan kompetensi dasar sebagai calon sarjana kesehatan masyarakat, salah satunya memahami dan menguasai praktikum kesehatan masyarakat. Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Haluoleo Kendari Sulawesi Tenggara sebagai salah satu perguruan tinggi penyelenggara pendidikan kesehatan masyarakat saat ini sedang menyelenggarakan praktikum kesehatan masyarakat yang dilaksanakan di Laboratorium Asosiasi Institusi Perguruan Tinggi Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIPTKMI) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin Makassar, yang dimuai dari tanggal 15 Januari 2009 sampai dengan 27 Januari 2009, dengan materi kegiatan yakni :

  1. AKK : menghitung unit cost pelayanan kesehatan,
  2. K3: pengukuran cahaya, getaran, dan landasan kerja,
  3. Biostatistik/KKB: membuat piramida penduduk, life tabel, pemecahan kelompok umur,
  4. Gizi: pengukuran status gizi dengan IMT,LILA,TLK,pengukuran Hb dan Glukosa darah,
  5. PKIP: tekhnik pengembangan media sederhana,
  6. Tekhnik komunikasi dan presentase Kesling: kualitas air minum,bakteriologi,identifikasi nyamuk,
  7. Epidemiologi: Pemeriksaan mikroskopik TBC, kusta, diare.

Kegiatan ini diikuti oleh 94 orang mahasiswa yang terbagi dua peminatan yakni peminatan epidemiologi dan administrasi kebijakan kesehatan (AKK). Dengan empat orang pendamping yakni: Ramadhan Tosepu, SKM, M.Kes., Asrun Salam, SKM, M. Kes., Suhadi, SKM ,M. Kes., dan Laode Ali Imran, SKM, M. Kes. Output dari kegiatan ini melahirkan mahasiswa yang mampu menguasai praktikum kesehatan masyarakat.